Langsung ke konten utama

Hoaks di Media Sosial menjelang Pemilu Presiden 2019



Capres tidak logis lalu bagaimana memimpin Negara yang kritis?


A.     Abstrak
Pemilu adalah hal yang sangat sensitif untuk diperbincangkan.Tahun ini adalah tahun politik. Tahun dimana generasi milenial perdana untuk mengikuti pemilu. Dalam kesempatan inilah para generasi milenial menunjukkan wujud partisipasi politiknya. Namun, semakin majunya teknolongi, media sosial yang menjadi makanan sehari-hari generasi milenial sang pemilih perdana ini justru semakin tak damai. Beragam hoaks, hujatan dan adu prestasi terlontar di berbagai situs media massa online, unggahan media sosial setiap masyarakat, tim sukses tiap calon, public figure, dan kalangan masyarakat lainnya. Hal inilah yang memicu “pandangan abu-abu” terhadap politik negara yang kritis dengan beragam masalah dan konflik yang kompleks. Hal ini sangat berdampak pada kualitas pemilu tahun ini. Entah akan menghasilkan keputusan yang membawa bangsa kepada keadaan yang semakin baik atau justru sebaliknya. Dan mungkin juga dominan kotak kosong karena kurangnya rasa percaya rakyatnya kepada para calon pemimpin negaranya.

B.      Pendahuluan
1.        Latar belakang
Cara orang berkomunikasi sekarang sudah berubah. Kegiatan bertelepon kita sudah banyak sekali digantikan dengan kegiatan texting. Peran visualisasi dalam media sosial seperti Path dan Instagram membuat kita bisa lebih saling mengerti. Membaca yang benar-benar membaca mulai dirasa berkurang manfaatnya dan bahkan sudah menjadi seni yang nyaris dilupakan masyarakat modern. Pemahamanpun tidak terlalu dikonfirmasikan secara serius. Tanpa sadar, kita menghalalkan budaya asumsi. Pertanyaannya, bisakah kita mengandalkan asumsi untuk memahami informasi secara lebih jauh dan mendalam? (Rachman: 97).
Pada era digital saat ini, kemajuan teknologi sudah menjadi kebutuhan pokok kehidupan manusia. Khususnya para kaum terpelajar, pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan sangat menunjang kehidupan sehari-harinya. Apalagi penggunaan media sosial dan media massa baik cetak, eletronik maupun online. Kemajuan teknologi tersebut tidak memungkiri untuk maraknya berita dan informasi bertebaran tanpa henti. Persebaran informasi ini pun juga tidak dapat dikendalikan. Hal inilah yang memicu terjadinya kasus-kasus berita hoaks.
Ada satu hal yang sangat krusial dan juga cenderung sensitif untuk dibahas. Hal tersebut adalah pemilu (pemilihan umum). Tahun 2019 ini adalah tahun politik. Dimana pemilihan presiden dan legislatif akan dilaksanakan di tahun ini. Di setiap pemilu, pasti ada generasi perdana atau generasi yang pertama kalinya mengikuti pemilu.

2.        Identifikasi masalah
Pemilu tahun 2019 ini digunakan oleh pemilih perdana sebagai sarana berpartisipasi dalam dunia politik dengan wujud ikut menggunakan hak pilihnya. Mengingat kondisi perkembangan teknologi saat ini, media sosial dan media massa menjadi bahan pangan sehari-hari setiap manusia.
Munculnya berita hoaks seringkali disebabkan oleh tingkah laku atau bahkan prestasi calon presiden dan calon wakil presiden yang telah dibumbui komentar netizen. Apabila yang disuka berbuat benar maka dijunjung tinggi, apabila yang disuka berbuat salah maka dibela habis-habisan. Sementara keadaan sebaliknya, apabila yang dibenci berbuat benar tetap dihujat, dan apabila yang dibenci berbuat salah semakin dikecam buruknya. Hal ini disebut hatespeech atau bagian dari “kampanye hitam”.
Peperangan komentar netizen ini kerap kali membuat pembacanya dan pemilih perdana menjadi bingung akan pilihannya. Apalagi perang aksi dan prestasi yang dilontarkan oleh masing-masing kubu. Mereka saling unjuk keunggulan sendiri dan menjatuhkan  pihak koalisi tiada henti. Juga, media pemberitaan yang terkadang terkesan memihak salah satu calon. Isu-isu yang bertebaran inilah yang sangat beresiko merusak kualitas pilihan suatu bangsa mengingat satu suara sangatlah berdampak besar bagi bangsa.

3.        Perumusan masalah
a)       Apa saja contoh hoaks terkait Pilpres 2019?
b)       Bagaimana dampak dari hoaks terkait Pilpres 2019?
c)       Bagaimana cara menyikapi hoaks yang beredar?
d)      Bagaimana cara memilih media-media yang kredibel terkait Pilpres 2019?

4.        Tujuan penulisan
a)       Agar pembaca memahami saja contoh hoaks terkait Pilpres 2019.
b)       Agar pembaca memahami dampak dari hoaks terkait Pilpres 2019.
c)       Agar pembaca memahami cara menyikapi hoaks yang beredar.
d)      Agar pembaca memahami cara memilih media-media yang kredibel terkait Pilpres 2019.

5.        Manfaat
a)         Manfaat Teoritis
1)       Agar pembaca dapat memahami isu-isu apa yang sedang diperbincangkan saat ini.
2)       Agar pembaca dapat membedakan berita mana yang benar dan mana yang tidak.
3)       Agar pembaca dapat berfikir secara kritis dan logis.
b)         Manfaat Praktis
1)       Agar pembaca dapat teliti dalam membaca suatu berita.
2)       Agar pembaca dapat mencerna informasi dengan benar.
3)       Agar pembaca dapat menyikapi dengan bijak segala aksi yang dilakukan oleh calon presiden dan calon  wakil presiden.
4)       Agar pembaca tetap menggunakan hak pilihnya.

6.        Teori
Ø  Hoaks
Menurut KBBI Hoaks adalah berita bohong. Dalam Oxford English dictionary, hoax didefinisikan sebagai malicious deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat.
Ciri :
a.        Mengakibatkan kecemasan, permusuhan dan kebencian pada diri masyarakat.
b.        Ketidakjelasan sumber beritanya.
c.        Isi pemberitaan tidak berimbang dan cenderung menyudutkan pihak tertentu.
d.       Bermuatan fanatisme atas nama ideology.
e.        Judul dan pengantarnya provokatif, memberikan penghakiman bahkan penghukuman tetapi menyembunyikan fakta dan data.

Ø  Hakekat Pemilu
Memperbincangkan kembali soal pemilihan umum (pemilu) memang amat menantang dan membangkitkan aroma politik. Ini karena pencarian sistem pemilu yang baik bagaimanapun tak dapat disederhanakan dengan hanya membahas sisi-sisi teknis pelaksaan pemilu, tetapi juga akan menyinggung hal-hal yang paling prinsipiil, yakni asumsi-asumsi dasar dan paradigm di belakang sebuah sistem pemilu. Justru dengan mengadakan penelusuran atas prinsip-prinsip asasi di balik sebuah sistem pemilu, kita akan dapat melihat secara transparan dan komprehensif muara dari pelaksanaan pemilu: apakah ia benar-benar mengabdi pada kepentingan massa rakyat, ataukah hanya menjadi ajang manipulasi suara rakyat.
Sebuah pemilu demokratis pada dasarnya adalah proses untuk memilihwakil-wakil rakyat yang akan duduk dalam dewan atau badan perwakilan rakyat. Untuk itulah suatu sistem pemilu yang baik harus dapat membaca pikiran, aspirasi, dan kepentingan rakyat, sehingga pasca pemilu, sistem politik yang dihasilkan adalah sebuah sistem yang berpusat pada rakyat, transparan, dan accountable. Inilah titik yang seyogyanya menjadi sentripetal dari gerak politik yang melibatkan massa-rakyat. Di sini pula seharusnya diskusi soal pemilu berawal dan berakhir.
Pemilu pada dasarnya merupakan ajang pertemuan dan persetujuan di antara massa-rakyat, untuk menentukan wakil-wakil rakyat yang akan duduk di parlemen. Sebuah pertemuan dan persetujuan tentu saja mengasumsikan adanya kesamaan, baik dalam pandangan maupun kepentingan seluruh warga sipil yang memiliki hak memilih. Dalam prosesnya, pemilih harus memegang suatu otoritas penuh sehingga ia memilih dengan penuh kesadaran, kepahaman, dan tanpa paksaan.
Dengan demikian, pemilu tidak lain dari representsai pilihan atau sikap politik rakyat. Keputusan politik yang rasional dan merdeka tentu mengandalkan tersedianya political space  yang menjadi landasan dan ruang kebebasan untuk menentukan sikap.
Pemilu yang rasional dan merdeka bukan sekedar mengenal tanda gambar dan sejumlah prosedur pencoblosan, namun diawali oleh pengenalan, kedekatan, penerimaan, bahkan komitmen terhadap sebuah partai yang dipilih atau orang-orangnya. Tanpa itu, pemilu tidak hanya jadi formalitas dan olok-olok belaka, tetapi juga menjadi organ pemaksaan serta pengingkaran atas hak-hak asasi manusia dan demokrasi, karena mengabsahkan terus negara otoriter yang seolah-oleh demokratis. (Dadang J: 1994).

Ø  Calon Pemimpin Negara 2019
“Pahlawan tak memiliki cacat, tapi pemimpin mempunyai noda. Jarang pemimpin tanpa kekurangan. Semua pemimpin terlalu manusiawi. Kadang orang baik melakukan hal buruk, demikian pula sebaliknya. “ – Joseph S. Nye
Joko Widodo kerap kali digambarkan sebagai sesosok pria kerempeng, pakaiannya seperti orang kebanyakan, kulitnya terlalu banyak terbakar matahari, nyengirnya khas orang umum, bahasa tubuhnya juga tak asing bagi rakyat. Tak ada polesan (walau akhir-akhir ini rambutnya sudah klimis).
Sementara Prabowo paling gemar mengenakan baju dengan warna dan desain yang dulu banyak dikenakan oleh para gerilyawan setelah kemerdekaan. Hal itu dilengkapi dengan intonasi dan bahasa yang lugas dan tegas.
Jokowi kerap dituduh sebagai capres boneka. Ia juga dituduh bahwa di belakangnya bersembunyi kepentingan sejumlah konglomerat. Isu agama juga ditembakkan ke Jokowi. Dalam hal ini asal usu Jokowi dikorek. Demikian juga agenda agama sejumlah penyokongnya. Apalagi, ada fakta sikap PDIP selama ini di parlemen yang cenderung tak akomodatif terhadap aspirasi umat Islam.
Sedangkan, Prabowo mempertontonkan keberjarakan dirinya dengan publik. Rumahnya di atas gunung. Gaya hidupnya sangat mewah: kuda mahal, mobil mewah, helikopter. Hal itu menjadi ironis dan kontradiktif dengan manifesto dan pidato-pidatonya yang selalu berbicara kemiskinan dan pemerataan ekonomi. Tidak nyambung antara yang dikatakan dengan perilaku sehari-harinya. Masa lalunya ketika menjadi Danjen Kopassus terutama kasus penculikan, juga diungkap lagi.
Jokowi dan Prabowo seakan berada dalam kontras. Namun seperti kata Nye, tak ada pemimpin tanpa cacat. Bukan berarti kita mengabaikan kekurangan dan melupakannya begitu saja, namun ada hal lain yang patut kita khidmati dari seorang pemimpin.
Bung Hatta menyatakan matahari terbit bukan karena ayam berkokok, tapi ayam berkokok karena matahi terbit. Untuk itu, Bung Hatta mengingatkan,”Pergerakan rakyat timbul bukan karena pemimpin bersuara, tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan, atau karena ada perasaan dalam hati rakyat. Menduga perasaan rakyat dan memberi jalan kepada perasaan itu keluar, itulah kewajiban yang amat sulit dan susah. Itulah kewajiban.”
Jadi, pemimpin akan dinilai dari efetivitasnya. Salah satunya adalah dalam hal kemampuan menyelami hati dan pikiran rakyatnya. Apakah dia berkokok seperti yang dimaui rakyatnya atau dia berkokok seperti maunya sendiri atau bahkan maunya orang lain di luar kepentingan rakyatnya.
Jika Prabowo tak diisolasi, maka kontestasi tetap akan mengerucut pada pertarungan Jokowi melawan Prabowo. Pertarungan yang sudah diprediksi sejak awal. Inilah pertarungan antara kekuatan cinta dan narasi. Kita harus memilih pemimpin yang bisa berkokok mengikuti pergerakan dan perasaan hati rakyat seperti yang diingatkan Bung Hatta.
Sebutir garam adalah pembawa rasa dalam kehidupan manusia, dan siapa pun bisa menjadi “sebutir garam yang penting dan berharga bagi orang lain. Pemimpin yang menjadi “sebutir garam” akan menunaikan kehendak baik, bukan hanya bagi orang-orang yang berpihak kepadanya, melainkan juga kepada setiap orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Ia memimpin dan melayani konstituen tanpa diskriminasi.
Pemimpin yang menjadi “sebutir garam adalah pemimpin yang cinta damai, tidak menebarkan hasrat jahat ataupun menghalalkan jurus-jurus fasik demi membidik kekuasaan semata. Menjadi “sebutir garam” juga buka berarti berkuasa dengan melaknatkan harga diri atau memberangus hak hidup para kawula alit, wong cilik, rakyat biasa yang lemah. Garam itu cinta damai, dan tentu tidak mudah menjadi garam yang cinta damai. Ada harga yang harus dibayar di muka, dan termahal adalah kesediaan berdamai dengan diri sendiri untuk senantiasa hidup damai dengan orang lain. Dan, untuk menjadi “sebutir garam” Anda harus memiliki karakter sebagai garam yang asin, artinya lebih dahulu menggarami diri sendiri – tidak tawar tanpa rasa.

C.      Metode
Metode yang kami lakukan dalam penelitian kali ini adalah observasi dari sejumlah buku, media massa  (situs berita online) dan juga beberapa komentar masyarakat di ragam media sosial.
Kami mencoba membandingkan antara teori-teori di berbagai buku, apakah berita-berita yang ada sesuai atau tidak dengan teori-teori yang disajikan dan juga kami bandingkan dengan realitanya. Komentar masyarakat kerap kali mengandung keluh kesah yang dirasakan.

D.     Isi
1.        Contoh Hoaks terkait Pilpres 2019
a.        Ratna Sarumpaet yang menjatuhkan Prabowo
Seperti yang kita ketahui, kasus hoaks yang ditimbulkan oleh seorang aktivis, Ratna Sarumpaet sungguh mengguncang dunia. Seluruh Indonesia ia bohongi. Unggahan foto wajah lebamnya mengejutkan publik. Lebam di wajah Ratna itu disebut akibat penganiayaan yang dialaminya seusai menghadiri konferensi internasional di Bandung 21 September 2018 silam.
Para politisi yang sebagian besar dari kalangan oposisi lantas ramai-ramai mengomentari dan mengecam penganiayaan terhadap Ratna. Tak sedikit yang menjadikan ini sebagai alat untuk menyerang pemerintah yang telah membiarkan warga negaranya dipukuli tanpa perlindungan.
Fadli Zon, Amien Rais, dan Prabowo turut bersimpati atas kasus ini. Prabowo pun bergegas menyelenggarakan konferensi pers. Lantaran Ratna Sarumpaet yang sebagai tim sukses Prabowo-Sandi datang menemui Prabowo dan menyebutkan bahwa ia telah dianiaya di Bandung.
Ketiga politisi tersebut sangat menggebu-nggebu dalam membela Ratna Sarumpaet. Mereka mengaku simpati dan menyebut tindakan penganiayaan yang dilakukan kepada Ratna adalah tindakan yang tidak berotak. Bahkan Fadli Zon pun menyebutkan dua atau tiga hari seharusnya pihak kepolisian sudah menemukan tersangka. Ketiga politisi tersebut langsung banjir pujian oleh masyarakat yang dilontarkan di kolom komentar tiap unggahan terkait aksi tiga politisi tersebut. Meski tak langsung menunjuk hidung pemerintah, Prabowo menyebut apa yang dialami Ratna sebagai pelanggaran HAM.
Namun, keesokan harisnya sejumlah fakta bermunculan, termasuk dari hasil penyelidikan kepolisian. Ratna disebut berada di Rumah Sakit kecantikan pada tanggal 21 September 2018 dan bukan sedang dipukuli. Ratna akhirnya mengakui bahwa kabar tersebut adalah berita bohong alias hoaks.
Sementara Fahri Hamzah menuntut Jokowi bersuara terkait apa yang dialami Ratna. Fahri berpendapat jika Jokowi sebagai presiden tidak mengeluarkan sepatah kata tentang ini maka Jokowi dianggap durhaka terhadap ibu pertiwi dan dia tidak layak menjadi pemimpin negeri ini. Sementara di sisi lain, Lombok dan Palu beserta Donggala sedang hancur. Presiden Jokowi memusatkan konsentrasi kepada penanganan dampak gempa bumi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Sementara konferensi pers Ratna berisi pengakuan akan kebohongannya dilakukan pada sore hari saat Presiden masih blusukan di lokasi bencana. Jokowi meninjau lapangan untuk memastikan proses evakuasi korban bencana Palu dan Donggala berjalan baik. Juga memastikan instruksinya mengenai percepatan logistik, pasokan BBM, ketersediaan listrik berjalan dengan baik.
Lagi dan lagi, Prabowo segera menyelenggarakan konferensi pers dalam rangka permohonan maaf kepada masyarakat. Dampaknya, Fadli Zon dan Amien Rais pun terjerat kasus Ratna, mereka dianggap turut menyebar berita hoaks. Mereka pun akan segera diperiksa. Amien Rais pun tak mempunyai rasa takut, bahkan ia berkata ia akan menguak kasus korupsi. Presiden Jokowi pun merespon yang berisi menyetujui jika Amien Rais benar-benar memiliki bukti yang valid. Namun ternyata setelah diperiksa, Amien tidak langsung pergi ke KPK seperti janjinya.
Kasus hoaks ini sangat perlu dikritisi, bagaimana bisa seorang calon presiden dan para politikus lainnya tidak logis dalam berasumsi? Tindakan yang harus dilakukan orang cerdas adalah memastikan bukti, menelaah bukti. Bukan main konferensi pers sebagai aksi untuk unjuk simpati.
Kasus ini pun menimbulkan citra Prabowo-Sandi menurun drastis. Banyak masyarakat yang berkomentar tidak salah mendukung Jokowi, bahkan ada yang berpindah haluan dari Prabowo ke Jokowi. Lalu, bagaimana bisa seseorang yang berani mencalonkan diri sebagai pemimpin negara bisa dipercaya oleh sebuah foto sedot lemak? Bagaimana bisa ia tidak memilah berita yang ia terima sementara teknologi untuk menyelidiki bukti tersebut sudah cukup profesional ada di Indonesia?
Untuk mengakhiri penggunaan hoaks dalam meraih simpati publik, para elite politik hingga masyarakat harus memiliki sikap dan cara berpikir kritis. Dengan cara berfikir kritis, seseorang tidak akan mudah untuk merespons dan mempertanyakan terlebih dahulu informasi yang diterimanya.
Selain berpikir kritis, penegakan hukum terhadap para penyebar hoaks menjadi salah satu jalan dalam mengakhiri mata rantai penggunaan hoaks. Hal itu ditujukan untuk memberikan efek jera dan takut sehingga penggunaan hoaks setidaknya dapat diredam, yaitu dengan adanya UU ITE.

b.       Jokowi Anti Islam, Pro China dan Pro Komunis
Jokowi dikatakan Anti Islam yang semakin menguat sejak bergulirnya Perppu Ormas. Hal tersebut dianggap sebagai salah sasaran. Sementara masa pemerintahan Jokowi-lah yang menetapkan Hari Santri dan UU Perbankan Syariah. Dan dalam wawancara 30 Menit bersama Presiden oleh NET TV, Jokowi berkata bahwa di Solo banyak sekali ormas Islam. Sangat mudah untuk mengecek kebenarannya di lingkungan sekitar Jokowi. Beliau juga sehari-harinya berhubungan dengan ulama. Setiap minggu dan setiap bulan beliau mendatangi pondok pesantren. Kita sebagai konsumen berita diminta kroscek setiap informasi yang kita terima.
Selanjutnya isu Pro Investasi Cina. Meski tak merinci angka, Wisnu menyebut iklim investasi di Indonesia tidak didominasi oleh negara Cina, melainkan Singapura. “Dulu dikabarkan jumlah 10 juta tenaga kerja asing dari Cina. Itu sebenarnya angka target wisatawan Cina karena termasuk negara pertumbuhan orang kaya tertinggi di dunia,” katanya.
Kemudian isu PKI, Jokowi dikatakan golongan PKI karena adanya fotonya yang sejajar dengan Aidit oleh Suara Rakyat. Sementara foto itu diambil pada tahun 1955, sedangkan Jokowi lahir di tahun 1961.

Lagi, isu antek asing. Saat ini, Blok Mahakam sudah 100% dimiliki Indonesia. Blok Prokan sudah 100% milik Pertamina. Freeport yang sudah 40 tahun di Indonesia saat ini 51% sahamnya dimiliki Indonesia yang sebelumnya hanya 9%.
Berbeda dengan Prabowo yang tampil baik namun ternyata boomerang baginya,  Jokowi justru diperangi oleh rakyatnya sendiri. Rakyat Indonesia adalah subyek pokok yang menjadi pengisi fikiran Presiden tak kenal waktu. Namun rakyatnya sendiri yang menyerangnya. Sementara mereka belum tentu mampu memimpin negara. Meskipun pembangunan belum merata, setidaknya kita sebagai rakyat tetap menghargai kinerja pemerintah bangsa dan terus bersinergi bersama untuk membangun bangsa bukan menjatuhkan satu sama lain.
2.        Dampak dari hHoaks terkait Pilpres 2019
Banyaknya hoaks yang beredar, saling menonjolkan prestasi, saling menonjolkan kelemahan dari masing-masing calon menyebabkan adanya keresahan para pemilih. Mereka cenderung bingung dengan kondisi seperti ini. Ditambah lagi kurangnya pengetahuan terkait visi misi ataupun program yang ditawarkan para calon ini. Track record yang seringkali dibumbui berita bohong dan provokasi membuat pemilih bahkan memilih untuk “Golput”. Sementara satu suara sangat berpengaruh besar bagi kemajuan bangsa.
Hoaks ini juga memicu kebencian antar penggemar atau biasa disebut fanatisme. Padahal, Indonesia adalah bangsa yang erat dengan persatuan dan kesatuan rakyatnya. Namun jika seperti ini keadannya, yang akan ada hanya perpecahan bangsa.
Fanatisme ini pun memungkinkan untuk terjadinya kriminalitas dengan latar belakang politik.

3.        Cara Menyikapi Hoaks yang Beredar
Dalam menyikapi hoaks-hoaks yang beredar, kita sebagai konsumen berita harus memastikan kebenaran berita tersebut. Mencari sumber berita adalah langkah pertama yang sangat besar manfaatnya.
Setelah mengetahui kredibilitas sumber berita tersebut, kita harus mencernanya dengan benar, logis dan kritis. Jangan sampai terprovokasi. Bahkan jika berita tersebut mengandung unsur provokasi, kita harus menjadi konsumen yang benar-benar cerdas. Cerdas di sini adalah cermat bermedia sosial, cermat dalam membaca, harus melek informasi, memiliki wawasan luas, selalu berfikir kritis, selalu menyaring berita, teliti dalam memahami, mawas dalam berasumsi, penebar kebenaran, dan selalu menanamkan persatuan dan kesatuan bangsa.

4.        Cara Memilih Media-Media yang Kredibel terkait Pilpres 2019
a.        Setiap calon diberi hak untuk membuat maksimal 10 akun dari setiap aplikasi. Simak dan analisislah mana yang dapat memicu perpecahan dan mana yang bersifat membangun. KPU selalu mengawasi setiap akun dan akan bertindak apabila akun-akun tersebut mengandung konten yang tidak sepantasnya diunggah. Selama tidak ada kabar miring dari KPU, akun-akun itu masih dapat dijadikan sebagai pedoman penilaian kita terhadap calon pemimpin negara kita ini.
b.       Mewaspadai setiap brita, menelaah isinya cenderung memprovokasi atau tidak. Hal ini sangat menentukan apakah kita akan terus mengonsumsi berita dari sumber itu kembali atau tidak.
c.        Melihat track record suatu media massa, atau ciri khas media massa, kemana arah pandangan suatu media massa, berpihak kepada siapa suatu media massa tersebut. Memihak salah satu calon atau justru netral dalam menyampaikan berita.

E.      Penutup
1.        Kesimpulan
a.        Komentar satu orang sangat mempengaruhi pemikiran orang lain bahkan mampu merubah pilihan orang lain. Begitu pun satu suara sangat mempengaruhi masa depan bangsanya.
b.       Hoaks, hatespeech, fanatisme adalah ketiga hal berkesinambungan yang mampu merusak persatuan dan kesatuan bangsa.
c.        Banyaknya masalah di Indonesia, menyebabkan isu yang diangkat di pemilu meluas. Itulah mengapa para calon pemimpin mengangkat isu-isu tersebut dengan ragam caranya masing-masing.

2.        Saran
a.        Sebagai konsumen brerita, kita harus menjadi konsumen yang cerdas. Yaitu konsumen yang tidak hanya menerima produk secara cuma-cuma. Tapi telusuri dahulu darimana sumbernya. Kemudian mencernanya dengan teliti dan seksama. Menyimpulkannya secara logis dan kritis. Serta tidak menebarkan kebohongan.
b.       Meskipun hoaks adalah masalah yang sulit dikendalikan, sulit untuk dihentikan, setidaknya kita juga harus memulai langkah awal. Dengan tidak membuat dan tidak ikut serta menyebarkan hoaks yang kita terima.
c.        Tetap gunakan hak pilih kita sebagai wujud partisipasi politik.

F.       Daftar Pustaka
1.        Rachman, Eileen. 2016. Jadilah Warga Dunia. Jakarta: PT Gramedia.
2.        Masha, Nasihin. 2014. Perjuangan Melawan Kalah. Jakarta: Republika Penerbit.
3.        Santosa, Agus. 2014. The Jokowi Secrets. Yogyakarta: Gradien Mediatama.
4.         Juliantara, Dadang. 2005. Meretas Jalan Demokrasi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
10.    https://youtu.be/PpH-6SFmAfo
11.  https://id.pinterest.com/pin/623467142135693760/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Star Is Born - Seni dan Realita Dibaliknya

            A Star Is Born (2018)   adalah sebuah film garapan Bradley Cooper di bawah beberapa perusahaan produksi dengan Warner Bros sebagai perusahaan produksi utama. Film bernuansa musikal roman ini merupakan film produksi ulang keempat dari sekuel A Star Is Born tahun 1937, film remake pertama tahun 1954 tentang musikal, film remake kedua tahun 1976 tentang rock musikal, dan film remake ketiga tentang roman Bollywood. Dirilis pada 5 Oktober 2018 di Amerika Serikat, film ini tayang di bioskop Indonesia pada 17 Oktober 2018.               A Star Is Born (2018) mengisahkan tentang seorang musisi musik country , Jackson Maine (Bradley Cooper), yang hidup dari satu panggung ke panggung lain. Jack menulis syair-syair, kemudian menyanyikannya di depan para penggemar. Sejalan dengan hal itu, Jack pun tidak pernah berhenti meminum alkohol. Sang kakak yang jug...