Langsung ke konten utama

PROMOSI PARIWISATA MELALUI MEDIA SOSIAL



Teknologi informasi selalu menunjukkan perkembangan dari masa ke masa. Pada tahun 1900-an, orang membutuhkan waktu berhari-hari hanya untuk bisa bertukar kabar. Zaman berkembang dan warung telepon atau yang lebih sering disebut wartel pun semakin menjamur. Jika ingin menggunakan jasa telepon umum tersebut, orang harus membayar dengan biaya tertentu. Tak jarang, antrean panjang pun mengular di depan wartel. Kemudian masuklah pada awal masa generasi Z, yakni kisaran tahun (kelahiran) 1998, bertukar kabar menjadi lebih mudah dengan menggunakan telepon genggam.

Zaman pun terus berkembang menuju kemajuan. Telepon genggam pun digeser eksistensinya oleh smartphone, atau telepon pintar. Hal ini sejalan dengan era kita saat ini, yakni globalisasi.
Secara umum, globalisasi adalah sebuah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Globalisasi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh bisnis dan tata kerja ekonomi, sumber daya sosial-budaya, dan lingkungan alam.


Dampak yang dibawa oleh globalisasi pun tidak main-main. Dulunya orang merasa tabu untuk mengekspose diri di depan umum, namun kini, hal itu menjadi sebuah kewajaran. Itulah mengapa, sebagian besar masyarakat dunia memiliki media sosial.

Globalisasi pun membawa perubahan pola hidup kepada masyarakat menjadi manusia yang serba cepat dan serba instan. Hal ini dikarenakan oleh pesan yang tersampaikan di era ini hanya memakan waktu dalam satuan detik untuk bisa sampai kepada orang lain, bahkan kepada seseorang yang berada di beda benua sekalipun.

Motif seseorang memiliki media sosial pun beragam. Mulai dari iseng, menuangkan kreatifitas, hingga ke hal yang lebih serius yakni untuk berwirausaha. Hadirnya media sosial belakangan ini pun lebih beragam bentuknya. Terdapat akun-akun yang hanya fokus kepada perihal politik, ekonomi, musik, film, pariwisata, dan sebagainya. Hal itulah yang membuat media sosial seakan menjadi kubus-kubus kecil bagi pengguna dan penyimaknya.


Perkembangan teknologi berupa media sosial ini pun memuat hal-hal yang menarik yang dikemas ke dalam berbagai macam kemasan. Ada yang berupa teks atau tulisan, foto atau gambar, audio, maupun video. Selain untuk menarik minat siapapun yang melihatnya, hal tersebut juga berguna untuk memperjelas pesan yang disampaikan.

Karena kehadiran akun-akun media sosial terbentuk menjadi berbagai macam, maka fungsinya pun tak kalah banyak macamnya. Ada yang ditujukan untuk sarana promosi, hiburan, pusat informasi, dan sebagainya.

Salah satunya yang menjamur belakangan ini adalah media sosial yang memiliki fungsi sebagai ajang promosi. Promosi adalah upaya untuk memberitahukan atau menawarkan produk atau jasa dengan tujuan menarik minat calon konsumen agar membeli, mengonsumsinya, atau mendatanginya (jika yang ditawarkan adalah sebuah tempat). Jadi, media sosial sebagai tempat promosi memiliki peran yang kurang lebihnya sama dengan pengertian promosi itu sendiri, yakni memuat hal-hal yang berpotensi menarik minat siapapun yang melihatnya.

Produk-produk yang dipromosikan pun kian beragam. Ada yang berupa makanan, pakaian, produk kecantikan baik untuk perawatan maupun make up, barang pecah belah, boneka, buku, paket perjalanan, tempat wisata, dan sebagainya.
Belakangan ini, muncul sebuah tren baru di kalangan anak muda. Ajakan untuk mengeksplorasi kekayaan alam di Indonesia pun semakin santer terdengar. Hal ini lah yang mempengaruhi haluan media sosial sebagai tempat promosi menjadi sesuatu yang lebih spesifik, yakni media sosial sebagai tempat promosi pariwisata.

Pemilihan media sosial sebagai tempat untuk menunjukkan betapa eloknya pariwisata khususnya di Indonesia adalah hal yang tepat. Mengapa demikian? Alasan yang pertama adalah tentang durasi waktu, yang kedua adalah tentang sasaran promosi, dan yang ketiga adalah tentang biaya promosi.

Alasan pertama, ada apa dengan durasi waktu? Sebagai buah manis dari hasil globalisasi, tentunya sifat-sifat induknya tidak ketinggalan. Sifat serba cepat dan praktis pun mengakar kuat pada media sosial. Hal ini bisa dicontohkan dengan promosi menggunakan media gambar atau foto. Untuk mempromosikannya, hanya perlu jepretan dan mungkin sedikit polesan atau editan untuk mempertajam warna agar lebih menarik. Kemudian, hanya perlu dibubuhi kalimat ringkas untuk menarik perhatian, gambar atau foto pun siap diunggah.
Proses pengunggahan ini lah yang menjadi acuan pada alasan pertama tentang durasi waktu. Tanpa memakan waktu yang lama seperti pada media promosi baliho atau spanduk, promosi pariwisata menggunakan media sosial dirasa jauh lebih efektif untuk menarik minat calon pengunjung.

Alasan kedua, apa yang dimaksud dengan sasaran promosi? Pariwisata adalah suatu bidang yang cakupan usianya luas, bisa mulai dari balita, anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan manula. Pada masa sekarang ini, media sosial bisa diakses oleh anak-anak hingga orang dewasa, bahkan manula sekalipun. Hal ini lah yang menjadikan promosi pariwisata melalui media sosial adalah hal yang paling tepat karena memungkinkan iklan-iklannya dilihat oleh berbagai golongan usia.
Golongan usia remaja hingga dewasa dinilai paling aktif dalam menggunakan media sosial. Secara tidak langsung pun mereka turut serta mempromosikan pariwisata yang ada di Indonesia melalui mulut ke mulut.

Misalkan, seorang remaja putri melihat promosi tempat wisata berupa foto pemandangan khas pegunungan yang hijau dan berkabut. Karena rasa ingin tahu, dia mendatangi tempat tersebut. Tidak mau ketinggalan, dia menggunggah foto dengan berlatarkan pemandangan serupa. Kemudian, teman dari remaja putri tersebut bertanya tentang di mana lokasi foto tersebut diambil. Remaja putri tadi pun menjawab dan memberikan informasi lokasi kepada temannya yang bertanya. Rantai semacam ini pun akan terjadi terus menerus kepada orang lain. Sehingga, tujuan promosi tempat wisata pun tercapai.

Alasan ketiga, seberapa besar biaya promosinya? Sudah menjadi rahasia umum bila biaya promosi iklan tidak lah murah. Lalu bagaimana dengan promosi di media sosial? Tentu, tidak ada iklan yang tidak berbayar.  Namun, biaya promosi di media sosial tidak lah semahal biaya promosi di baliho atau billboard. Sudah barang tentu bila hal ini menjadi nilai tambah bagi promosi melalui media sosial.
Sesungguhnya, mempromosikan tempat wisata tidak lah semahal dan sesulit yang ada di benak sebagian orang. Terlebih lagi, sektor pariwisata adalah sebuah sektor yang bisa dijamah oleh semua golongan usia dan ekonomi.

Maka dari itu, mari gunakan media sosial dengan sebijak mungkin, dan beranikan lah diri Anda untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Star Is Born - Seni dan Realita Dibaliknya

            A Star Is Born (2018)   adalah sebuah film garapan Bradley Cooper di bawah beberapa perusahaan produksi dengan Warner Bros sebagai perusahaan produksi utama. Film bernuansa musikal roman ini merupakan film produksi ulang keempat dari sekuel A Star Is Born tahun 1937, film remake pertama tahun 1954 tentang musikal, film remake kedua tahun 1976 tentang rock musikal, dan film remake ketiga tentang roman Bollywood. Dirilis pada 5 Oktober 2018 di Amerika Serikat, film ini tayang di bioskop Indonesia pada 17 Oktober 2018.               A Star Is Born (2018) mengisahkan tentang seorang musisi musik country , Jackson Maine (Bradley Cooper), yang hidup dari satu panggung ke panggung lain. Jack menulis syair-syair, kemudian menyanyikannya di depan para penggemar. Sejalan dengan hal itu, Jack pun tidak pernah berhenti meminum alkohol. Sang kakak yang jug...

Hoaks di Media Sosial menjelang Pemilu Presiden 2019

Capres tidak logis lalu bagaimana memimpin Negara yang kritis? A.      Abstrak Pemilu adalah hal yang sangat sensitif untuk diperbincangkan.Tahun ini adalah tahun politik. Tahun dimana generasi milenial perdana untuk mengikuti pemilu. Dalam kesempatan inilah para generasi milenial menunjukkan wujud partisipasi politiknya. Namun, semakin majunya teknolongi, media sosial yang menjadi makanan sehari-hari generasi milenial sang pemilih perdana ini justru semakin tak damai. Beragam hoaks, hujatan dan adu prestasi terlontar di berbagai situs media massa online, unggahan media sosial setiap masyarakat, tim sukses tiap calon, public figure , dan kalangan masyarakat lainnya. Hal inilah yang memicu “pandangan abu-abu” terhadap politik negara yang kritis dengan beragam masalah dan konflik yang kompleks. Hal ini sangat berdampak pada kualitas pemilu tahun ini. Entah akan menghasilkan keputusan yang membawa bangsa kepada keadaan yang semakin baik atau justru sebalikny...